BUTERFLY EFFECT (KARNA TUHANKU MAHA HEBAT)


AKU DAN KELUARGAKU

“Kebahagiaan tidak terletak pada hidup yang berlebihan tetapi ada pada hidup yang berkecukupan”(Andy Stevenio)

    Perkenalkan namaku adalah Suprianto, aku tinggal di desa terpencil yang ada didaerahku tepatnya di Desa Jayapura Kecamatan Jayapura Kabupaten OKU Timur Provinsi Sumatera Selatan. Desaku berada sangat jauh dari pusat kota, sehingga jika hendak kekota memerlukan waktu hingga kurang lebih satu jam lamanya. Desaku masih banyak sekali hutan sehingga membuat daerahku kurang dipedulikan oleh pemerintah, tempat tinggalku merupakan lumbung batu gunung di kabupatenku yang biasa digunakan untuk membuat bangunan dan jalan. Ada banyak sekali perusahaan batu yang ada didaerahku tapi hal itu tidak membuat pemerintah membangun desaku menjadi lebih maju lagi bahkan jalan menuju kedesaku sangat jelek dan berdebu padahal jika dipikir-pikir daerahku merupakan penyalur pajak terbesar dikabupatenku karena banyaknya perusahaan yang ada.

    Aku merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara, 4 laki-laki dan satu perempuan. Kami dibesarkan dari keluarga yang bisa dikatakan tergolong ekonomi kebawah. Ibuku seorang Asisten Rumah Tangga dan Ayahku bekerja sebagai pemecah batu. Ayahku merupakan orang yang hebat karena diusia ayah yang sudah menginjak tua tapi beliau masih berkerja sebagai pemecah batu disebuah perusahaan yang ada didesaku. Ayahku merupakan orang yang sabar, aku sangat jarang bahkan dibilang tidak pernah melihat ayah marah. Ketika kami melakukan kesalahan ayah tidak pernah marah dan cenderung memberikan nasihat kepada kami.

    Sejak aku kecil ibuku sudah sering berkerja jauh dariku (Merantau) sejak aku kelas 3 Sekolah Dasar tepatnya. Pada saat itu aku masih belum bisa apa-apa, untunglah ada kakak perempuanku sehingga beliaulah yang membantuku untuk menyiapkan keperluan pribadi dan segala keperluan yang ada dirumahku. Ibuku biasanya pulang 1 tahun sekali biasanya ketika bulan suci Ramadhan hingga Hari raya Idul Fitri. Namun seiring berjalannya waktu kakak perempuanku memasuki masa SMA dimana saatnya dia harus pergi merantau untuk melanjutkan sekolahnya demi menggapai cita-citanya, akhirnya akupun berusaha untuk mengambil peran beliau mengurus rumah walaupun pada saat itu aku masih kelas 5 Sekolah Dasar.

 

 USAI SENJA DI PUTIH ABU-ABU

“Bukan hidup yang menjadi lebih mudah, tetapi anda yang tumbuh menjadi lebih kuat”

    Hari-hari berlalu dan Aku pun mampu mengurus rumah dan adik ku, walaupun sebenarnya ayahku ada tetapi aku tidak mau merepotkan beliau sehingga biarlah beliau berkerja dan masalah rumah dan adikku biar aku yang mengurusnya. Singkat cerita ketia satu tahun lulus SMA kakak perempuanku menikah dan tinggal di tempat suaminya di Muaraenim, pada saat itu bersamaan dengan diriku yang akan masuk SMA. Awalnya aku bingung ingin melanjutkan sekolah dimana karena aku tidak ingin untuk bersekolah di SMA yang berada di sekitar Tempat Tinggalku, aku ingin bersekolah di SMA N 1 Martapura. SMA yang aku idam-idamkan bisa dikatakan SMA Terbaik di Daerahku, SMA inilah yang pernah menolak (tidak menerima) kakak perempuanku sehingga dia harus bersekolah jauh.

    Awalnya aku tidak begitu yakin untuk mendaftar di SMAN 1 MARTAPURA, karena baru saja aku membicarakannya dengan ayah untuk mendaftar disana tetanggaku sudah berkata “jangan sok-sok an mau sekolah disana, makan saja susah. Gimana kamu perginya nanti?”. Mendengar perkataan itu aku menjadi sedikit bimbang.

    Dengan keyakinan yang kuat akhirnya aku mendaftar diri ke SMA tersebut. Rasa bimbang, minder dan bingung pasti ada karena tidak bisa dipungkiri aku baru pertama kali ke kota dan mendaftar di sekolah yang menjadi favorit didaerahku tapi dengan keyakinan yang kuat kuberanikan diri untuk mencoba keberuntungan di-SMA ini. Setelah selesai melaksanakan tes, pengumuman yang diterima akan diberitahukan sebulan kemudian. Singkat cerita ketika pengumuman akhirnya aku diterima di SMA Bintang dan aku sangat bersyukur karna bisa membuktikan bahwa kalau kita tidak mau mencoba maka kita tidak akan tahu bagaimana kedepannya bahkan lebih dari sekedar bangga karna setelah pengumuman keluar ternyata nilaiku terbesar ke 3.

 

JANGAN SEDIH TUHAN MAHA ADIL

“Berani hidup berarti berani menderita. Bila takut menderita, sebaiknya batalkan hidupmu sekarang juga. Ketahuilah bahwa tidak ada lagi tempat bagi orang yang takut menderita didunia ini karena penderitaan adalah syarat dari kehidupan”

    Aku bersyukur kepada allah karna telah memberikan aku kesempatan untuk bisa bersekolah di SMA ini. Ketika awal masuk jujur aku sedikit merasa minder karena aku belum mempunyai teman / kenalan sama sekali disana. Sebulan setelah aku diterima di SMA ibuku meninggal dunia diperantauan hal itu sangat membuatku sedih, tapi dibalik kesedihan yang aku alami semakin membuatku semangat dan semakin giat untuk belajar. 

    Awal semester pertama dimulai aku bingung bagaimana caraku berangkat kesekolah, dikarenakan keluargaku tidak ada sama sekali kendaraan dan pada akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan mobil yang mengangkut batu yang lewat kearah sekolahku. Dan akhirnya setiap hari aku menumpang di mobil batu yang lewat, aku sangat bersyukur karna aku masih bisa berangkat kesekolah walaupun harus menumpang mobil batu yang lewat kearah SMA-Ku. Yang membuatku sedih adalah setiap pulang kerumah aku baru sampai dirumah selepas maghrib dikarenakan mobil batu baru lewat disekolah kami setengah 6 sore, terkadang jika aku sangat beruntung bisa sampai rumah pukul 5 sore jika ada mobil yang lewat lebih awal. Itulah yang membuatku  akhirnya aktif berorganisasi demi untuk mengisi waktu

 

DERAP LANGKAH MENUJU KAMPUS KUNING

“Tidak ada namanya kegagalan, yang ada hanya ketidaktepatan cara melakukan”

    Kuliah, kuliah, dan kuliah. Itu yang ada di pikiranku saat itu, aku sangat ingin berkuliah walaupun aku sendiri sadar bahwa aku tidak memiliki biaya untuk berkuliah. Hingga suatu saat gubu BK disekolahku memberi tahu bahwa ada beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu yang memiliki keinginan berkuliah namanya Beasiswa Bidikmisi. Singkat cerita pada saat pembukaan pendaftaran Beasiswa Bidikmisi untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri aku langsung mendaftar dan langsung menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan berharap ketika aku diterima diperguruan tinggi aku tidak perlu lagi meminta uang ke ayahku. Banyak seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri yang telah aku ikuti. Dari banyaknya seleksi masuk PTN yang aku ikuti tak satupun PTN yang menerima, tersisa satu jalur masuk lagi yaitu SBMPTN.

    Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ujian SBMPTN dengan harapan aku bisa diterima jalur ini. Jika aku tidak lolos SBMPTN maka aku akan berkerja dulu kemudian daftar kuliah lagi tahun depan, tibalah saatnya tes SBMPTN lagi-lagi aku harus pergi kesebuah tempat yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya sendirian, ya saat itu tempat tes berada di kota Palembang. Aku merasa takut tapi dengan keyakinan yang kuat aku putuskan untuk memberanikan diri ke Palembang sendirian demi meraih keinginan yang sangat besar dalam diriku yaitu membuat ayahku bangga dengan apa yang aku lakukan. Tes selesai tiba saatnya aku berserah diri kepada yang maha kuasa berharap aku diterima di salah satu pilihan program study yang aku pilih. Waktupun berlalu dan Alhamdulilah setelah pengumuman aku dinyatakan lolos di-Universitas Sriwijaya Program Study Bimbingan Konseling.

    Tiba saatnya daftar ulang di Universitas Sriwijaya dan lagi, lagi dan lagi aku harus pergi ke Universitas Sriwijaya sendirian dan berkat sudah terbiasa dalam kesendirian akhirnya aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Walaupun pada kenyataanya masih ada rasa ragu dan takut apa yang kukerjakan ketika daftar ulang itu mengalami kesalahan. Dan pada akhirnya aku resmi menjadi salah satu bagian dari mahasiswa di kampus kuning ini.

 

JADI APA YANG KUINGINKAN

“Biasakanlah untuk berpikir bahwa sukses hanya tinggal selangkah lagi dan pasti akan diraih, niscaya masa depan yang cerah akan ada didepan anda” (Andrew Carnegie)

    Pada saat ini aku telah mendapat 2 beasiswa yaitu Beasiswa Bidikmisi dan Beasiswa Kader Surau dari YBM BRI (saat ini berubah menjadi Bright Scholarship) dan , kuharap melalui beasiswa ini bisa membawaku menjadi orang yang sukses. Selain itu aku berharap menambah dan meningkatkan prestasi ku dibidang akademik maupun non-akademik. Alhamdulillah berkat semua ini aku berhasil  sedikit meringankan beban ayahku.

    Awalnya aku tidak yakin bisa berada di Universitas Sriwijaya ini bahkan sampai menerima 2 beasiswa, tapi yang pasti ini adalah hasil dari semua perjuanganku yang nantinya mampu membawaku menuju kesuksesan yang sesungguhnya. Aku teringat tentang teory Buterfly Effect dimana satu kepakan sayap kupu-kupu dibelantara hutan amazon mampu menyebabkan badai topan di texas, dimana gerakan kecil yang ku buat dimasa lalu akan berpengaruh besar pada pada diriku pada saat ini.


Itu singkat cerita pengalaman pribadi yang bisa aku bagikan hari ini, kedepannya akan aku share cerita lain secara lebih detail lagi. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca cerita ini. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan lainnya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.